RSS

Filsafat Ilmu dan Filsafat Pendidikan

21 Okt

A.  FILSAFAT ILMU

1. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU

Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001).

  •   Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.
  • Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole”. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan)
  •  A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines”. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)
  • Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah).
  • May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science”. (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.
  • Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error”. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan)
  •  Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :

  • Obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan? (Landasan ontologis)
  • Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
  • Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)

2. BEBERAPA KONSEP DALAM ILMU

  • Konsep Klasifikasi adalah suatu konsep yang meletakan obyek yang sedang ditelaah dalam suatu kelas tertentu. Contohnya: konsep taxonomi dalam botani dan zoologi.
  • Konsep Perbandingan merupakan konsep yang lebih efektif dalam memberikan informasi. Konsep ini berperan sebagai perantara antara konsep klasifikasi dan konsep kuantitatf. Konsep perbandingan melibatkan suatu struktur hubungan logis yang rumit. Sekali kita menetapkan struktur ini maka kita tidak bebas lagi untuk menolak dan mengubahnya. Jadi kita melihat dua segi di mana konsep perbandingan dalam ilmu tidak bersifat konvensional: mereka harus diterapkan kepada fakta-fakta alami dan mereka harus sesuai dengan struktur hubungan logis.
  • Konsep Kuantitatif, konsep ini mempunyai pasangan yang berhubungan dengan konsep komparatif dimana dalam perkembangan sebuah bidang keilmuan, biasanya berfungsi sebagai langkah pertama terhadap kuantiatif.

3.    CIRI-CIRI DAN CARA KERJA FILSAFAT ILMU

  • Mengkaji dan menganalisis konsep-konsep, asumsi, dan metode ilmiah.
  • Mengkaji keterkaitan ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya.
  • Menkaji persamaan ilmu yang satu dengan yang lainnya, tanpa mengabaikan persamaan kedudukan masing-masing ilmu.
  • Mengkaji cara perbedaan suatu ilmu dengan ilmu yang lainnya.
  • Mengkaji analisis konseptual dan bahasa yang digunakannya.
  • Menyelidiki berbagai dampak pengetahun ilmiah terhadap:

–  Cara pandang manusia

–  hakikat manusia

–  nilai-nilai yang dianut manusia

–  tempat tinggal manusia

–  sumber-sumber pengetahuan dan hakikatnya

–  logika dengan matematika

–  logika dan matematika dengan realitas yang ada

4. TUJUAN FILSAFAT ILMU

  1. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara mnyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
  2. Memahami sejarah pertumbuhan perkembangan dan kemajuan ilmu diberbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
  3. Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non-ilmiah.
  4. Mendorong pada calon ilmuwan untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan dan mengembangkannya.
  5. Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.

 

B. FILSAFAT PENDIDIKAN

 1.  Hakekat manusia dan persoalan pendidikan

a. Hakikat Manusia

Siapakah manusia? Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan.

Asal muasal kehidupan ini adalah Tuhan (Causa Prima) dan bertujuan akan kembali kepada-Nya.

Namun pada dataran realita, prilaku manusia ketika ada kesempatan manusia cenderung melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan.

Dari kesenjangan antara pengetahuan dan prilaku tersebut, muncullah upaya untuk mempertemukannya, yaitu melalui pendidikan. Sepanjang eksistensinya manusia  senantiasa mendidik dirinya dengan mencari dan menemukan keselarasan antara pengetahuan dengan prilakunya.  Dalam sepanjang eksistensinya manusia senantiasa menselaraskan  antara pengetahuan dengan prilakunya melalui pendidikan. Di dalam konteks pendidikan manusia manusia memerankan dirinya sebagai subjek dan objek.

Seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi manusia cenderung lebih memerankan dirinya sebagai subjek.Dengan ilmu dan teknologi, manusia membangun perekonomian materi-kapilatistik secara eksploratif dan eksploitatif terhadap sumerdaya alam sampai pada batas marginal. Sehingga lingkungan alam menjadi tidak seimbang lagi, maniusia semakin terpuruk ke dalam lorong filosofi kehidupan sekuler positivistik dengan orientasi hedonisme-materialistik akibatnya , dunia spritual-transendental terabaikan. Padahal  hakekat peran manusia sebagai objek adalah menemukan kecerdasan spritual-transendental dan prilaku berkeadilan terhadap alam semesta.

A.1   Manusia mahluk berpengetahuan

Manusia lahir dengan potensi kodratnya berupa cipta, rasa dan karsa. Cipta adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai-nilai kebenaran, rasa adalah kemampuan spiritual , yang secara khusus mempersoalkan nilai-nilai keindahan,. Sedangkan karsa adalah yang secara khusus mempersoalkan nilai kebaikan.

ketiga potensi tersebut terkandung dalam segala sesuatu yang ada (realitas), dibingkai dalam sistem falsafah hidup untuk mencapai tujuan hidup itu sendiri.

Falsafah hidup adalah pengetahuan yang bernilai universal tentang asal-muasal hidup, tujuan hidup, dan eksistensi kehidupan.

Falsafah hidup dijabarkan dalam pedoman hidup. Pendoman hidup  adalah  suatu bentuk atau wujud falsafah hidup yang berfungsi sebagai titik tolak langsung prilaku sehari-hari.

Sedangkan sikap dan prilaku hidup adalah pengetahan khusus dan kongkrit berupa langkah kehidupan yang tentukan sepenuhnya oleh pedoman hidup. Ketiga pengetahuan tersebut  selanjutnya dijadikan objek pembelajaran bagi manusia dalam mencapai tujuan akhir kehidupannya.

A.2.  Manusia sebagai makhluk berpendidikan.

Sejak lahir manusia sudah langsung terlibat dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran.

Kegiatan pendidikan dan pembelajaran itu di selenggarakan dengan cara-cara konvensional (alami) menurut pengalaman hidup, sampai dengan cara-cara formal yang metodik sistemarik institusional (pendidikan sekolah), menurut kemampuan konseptik-rasional.bahkan setelah mencapai kedewasaan diri, manusia terus melanjutkan pendidikannya menuju pematangan diri. Pematangan diri adalah kemampuan manusia untuk menolong dirinya sendiri, orang lain terutama menolong kelestarian alam agar tetap berlangsung sesuai ekosistemnya.

A.3   Manusia makhluk berkebudayaan

Nilai kebenaran yang diperoleh manusia melalui pendidikan  selanjutnya mendorong terbentuknya nilai sikap prilaku arif dan berkeadilan. Lebih lanju, dengan sikap dan prilaku tersebut, manusia membangun kebudayaan dan peradabannya. Kebudayaan baik yang material maupun yang spiritual, adalah upaya manusia untuk  mengubah dan membangun keterhubungan yang seimbang baik secra horizontal maupun vertikal.

Secara horizontal , dengan sikap terdidiknya manuia mendukung kodrat untuk senantiasa terdorong membangun hubungan diri sendiri dengan sesamanya secara berkeadilan. Manusia juga terdorong secara kodrati untuk senantiasa membangun hubungan yang berkeadilan dengan alamnya.

Hubungan berkeadilan terhadap diri sendiri berupa pemenuhan segala kewajiban menurut dasar hak kodrat dirinya sebagai manusia

Contoh kewajiban makan, minum, dan berpakaian,

Selanjutnya sikap perilaku arif berkeadilan juga harus diberlakukan bagi pengembangan hubungan sesama manusia. Dalam konteks ini terjadi hubungan yang saling mendidik  antar orang yang satu dengan yang lainnya.

Selanjutnya sikap adil dan berkeadilan juga  dilakukan terhadap alamnya. Karena prilaku manusia yang zalim terhadap alam dan potensi sumber dayanya mengakibatkan sistem lingkungan menjadi disharmonis, dan bencana alam terjadi di mana-mana.Dengan mengutamakan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perindustrian untuk pelestarian alam dan sumberdayanya maka kelangsungan hidup manusia akan terjamin.

B. Filosofi kehidupan.

Secara filosofis realita persoalan kehidupan dapat disederhanak menjadi tiga titik saja. Yaitu:  titik ’asal mula’ yaitu dengan peristiwa kelahiran.

Kedua, ’titik tujuan’ yaitu peristiwa kematian.

Ketiga, ’titik eksistensi’ berupa garis lurus kehidupan manusia. Yang menghubungkan antara kedua titik terdahulu.

Idealnya jika titik asal mula  bernilai’A’, misalnya, maka tujuan haruslah bernilai ’ A’ pula. Sebagai konsekuensinya , titik eksistensinya tidak bisa tidak harus bernilai ’A’. Jika manusia menyakini asal muasal kehidupan adalah Tuhan maka tujuan hidupnya adalah Tuhan, sebagai konsekuensinya, seluruh prilakunya kehidupan manusia mutlak harus bernilai ketuhanan.

Secara filosofis, titik asal-mula dan tujuan adalah dua titik identik yang berada di dunia metafisis. Oleh karena itu tunggal adanya, bersifat universal dan absolut serta tidak mengalami perubahan. Sedangkan garis eksistensi berada dalam dunia ’fisis’. Oleh karena itu plural adanya, bersifat serba berhingga, khusus dan sarat perubahan, sehingga relatif adanya. Dunia fisis adalah ruang lingkup pengalaman dan pemikiran manusia, dan dari sinilah muncul dan berkembang berbagai interpretasi mengenai arti kehidupan, yang mengakibatkan bergai filsaft hidup, sikap dan prilaku hidup. Keanekaragaman eksistensi kehidupan inilah yang menjadi faktor dominan penyebab  keterpisahan antara asal-mula dan tujuan kehidupan.

Karena sifat fisisnya, dunia eksistensi ini sering diposisikan saling bertentangan dengan dunia metafisis. Padaha sebenarnya dunis fisis eksistensial ini adalah perwujudan atau perluasan dari dunia metafisis. Atau secara fenomenologis, dunia fisis ini merupakan gejala atau penampakan dari dunia metafisis.

Persoalan dunia fisis eksistensial semakin beragam dan akhirnya berakumulasi  menjadi persoalan besar yang makin memisahkan titik asal mula dan tujuan. Jika demikian, kelangsungan hidup dan kehidupan menjadi terbatas dan berhingga hanya sampai pada titik sekuler. Akibatnya kehidupan menjadi serba material dan menjadi ladang yang subur bagi berkembang biaknya keserakahan.

Dunia fisis eksistensial inilah yang kemudian dipandang penting untuk di rekonstruksikan secara konseptik- filosofis dan dilaksanakan secara kongkrit dalam bidang pendidikan.agar terjalin konsistensi antara titik-awal, tujuan, dan eksistensi kehidupan itu, maka:

a)    secara filosofis perlu dirumuskan arti hakikat, asal-mula, dan tujuan kehidupan.

b)     Dalam kegiatan pendidian, hakekat asal-mula dan tujuan kehidupan perlu ditanamkan ke dalam prilaku kehidupan

C. Hakikat asal-mula dan tujuan kehidupan

Ketidaktahuan manusia akan substansi titik-awal dan tujuan akhir kehidupan, karena pikiran manusia bersifat terbatas, sementara substansi asal-mula dan tujuan itu bersifat tak terbatas, maka tak mungkin yang serba terbatas mampu mengetahui yang serba tak terbatas. Bahwa jika titik awal itu dipastikan sebagai ’causa prima’ (Tuhan), maka terhadap kenyataan ini, sejauhmankah kal pikiran kita dapat menjelaskan fakta tentang Tuhan?. Meskipun demikian akal pikiran manusia mampu menyimpulkan dan menilai bahwa hakikat asal-mula dan tujuan kehidupan adalah satu, bersifat universal, absolut, berada dalam dunia metafiisis, dan merupakan tujuan akhir dari segala yang ada di dunia ini.

D. Problema pendidikan dalam kehidupan

Atas posisi dan fungsinya, manusi berkewajiban kodrati mempertahankan, mengatur dan mengembangkan kehidupan dirinya, baik secara individu, anggota masyarakat maupun makhluk dalam eksistensi alam yang harmonis. Jika terjadi ketidakharmonisan dalam kehidupan manusia, maka secara filosofis penyebabnya adalah kualitas pendidikan yang rendah.

Marilah kita simak fakta kehidupan manusia. Pada zaman dahulu, kehidupan manusia begitu sederhana dalam hal menentukan tujuan, sikap dan prilaku serta bagaimana menggunakan alat perlengkapan kehidupannya. Tetapi sejak jumlah manusia berlipat ganda menurut dert ukur, hubungan harmonis itu makin kontradiktif dengan kakikat kodrat keberadaanya.Dengan kreatifitas manusia menciptakan teknologi yang kemudian mampu menggelar era perindustrian sejak beberapa  abad yang lalu, sebagai akibatnya prilaku kehidupan manusia menjadi terdominasi oleh kecerdasan intelektual, dengan demikian potensi kecerdasan spiritual menjadi terabaikan. Potensi kecerdasan intelektual memang lebih bisa menjamin pemenuhan kebutuhan kehidupan manusia sehari-hari, sedangkan potensi spiritual dan moral lebih bersifat teoritis dan normatif.

Ketidakharmonisan kehidupan terjadi justru terjadi ketika kuantitas pendidikan mengalami kemajuan. Dunia pendidikan telah mampu membuktikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berhasil menciptakan industrialisasi secara global, sehingga masyarakat, bangsa, dan negara manpun terdesak untuk mengubah sifat kemasyarakatannya menjadi semangat perindustrian. Akibatnya moralitas individu tertarik untuk mengubah dirinya menjadi berwatak industri. Sebagai akibat langsung dari kecepatan diamika teknologi dan perindustrian  pada gilirannya dunia pendidikanpun dilanda komersialisasi. Oleh sebabitu, persoalan selanjutnya yang penting  dan perlu adalah bagaiman membingkai gerakan cepat  teknologi  dan perindutrian itu  tetap dalam kerangka tujuan hidup dan kehidupan manusia. Secara filosofis pendidikan seharusnyan mengembangkan potensi spiritual, intelektual, dan moral menurut hubungan sebab-akibat. Dengan kerangka pikir demikian persoalannya dapat disederhanakan menjadi”mengembangkan teknologi dan perindustrian dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, bukan keinginan hidup”.pendidikan untuk industri adalah wajar dan benar. Tapi sebaliknya perindustrian untuk mendidik masyarakat manusia menjadi kehidupan yang maju adalah lebih tepat dan seharusnya menjadi spirit dan perwatakan era industrialisasi sekarang ini. Inilah yang menjadi titik utama perhatian filsafat masa depan.

E. Problematika kependidikan

Ketika telah terjadi komersialisai pendidikan yang kemudian berbanding lurus dengan krisis moral. Sebagai akibat watak moral material-kapitalistik. Melekat mulai dari titik kebijakan hingga praktek penyelenggaraan pendidikan.

Dalam penyelenggaraan pendidikan sangat kurang memperhatikan pada persoalan motodologi pendidikan, sementara metode pengajaran terlalu mendapat penekanan. Wawasan pendidikan yang seharusnya berorientasi pada proses (process oriented), berubah menjadi result oriented. Akibatnya kreativitas individual menjadi tumpul dan yang berkembang adalah moral peniruan.. akibat selanjutnya, kehidupan sosial diberbagai bidang tidak mengalami mobilitas dinamis  yang bergrak ke arah tujuannya. Dalam kondisi sosial yang demikian watak manusia lebih konsumtif dan tidak produktif.

Pihak-pihak yang bertanggung-jawab terhadap masalah kependidikan tersebut secara sistematis adalah keluarga, sekolah, masyarakat, negara, pada gilirannya peserta didik itu sendiri.

Arti Pendidikan:

Pendekatan Eksistensial

Istilah pendidikan berasal dari bahasa Inggris  ”education” yang berakar dari bahasa latin ”educare”, yang berarti pembimbngan berkelanjutan (to lead forth).

Sasaran pendidikan  berfungsi sebagai alat, sarana, dan jalan untuk membuat perubahan menuju perkembangan hidup. Pada akhirnya manusia mewujudkan dirinya sebagai makhluk pendidikan.

Bahasan selanjutnya terkait dengan keberadaan pendidikan, yang terbagi dalam tiga katagori, yaitu dalam arti luas, sempit dan keberadaan pendidikan dalam arti alternatif.

F. Pendidikan dalam arti luas.

Pendidikan adalah segala kegiatan pembelajaran yang berlangsung sepanjang zaman dalam segala situasi kegiatan kehidupan yang berlangsung disegala jenis, bentuk dan tingkat lingkungan hidup. Singkatnya pendidikan merupakan sistem proses perubahan menuju pendewasaan, pencerdasan, dan pematangan diri. Dewasa dalam hal perkembangan badan, cerdas dalam hal perkembangan jiwa, dan matang dalam hal berprilaku. Dengan pendidikan, manusia berusaha meningkatkan kehidupannya dari tingkat kehidupan naluriah menjadi rasional berkebudayaan. Dalam arti luas, pendidikan dapat di identifikasi karakteristiknya sebagai berikut:

  1. pendidikan berlangsung sepanjang zaman (life long education).
  2. pendidikan berlangsung disetiap bidang kehidupan manusia.
  3. pendidikan berlangsung disegala tempat dimanapun dan disegala waktu kapanpun
  4. objek utama pendidikan adalah pembudayaan manusia dalam memausiawikan diri dan kehidupannya.
  1. Arti Sempit Pendidikan

Dalam arti sempit, pendidikan adalah seluruh kegiatan belajar yang direncanakan, dengan materi terorganisasi, dilaksanakan secara terjadwal, dalam sistem pengawasan, dan diberikan evaluasi berdasar pada tujuan yang telah ditentukan. Mengenai arti pendidikan secara sempit, sesuai dengan yang diungkapkan oleh Mudyahardjo, ciri-ciri khasnya antara lain dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  1. pendidikan berlangsung dalam waktu terbatas.
  2. pendidikan berlangsung dalam ruang terbatas.
  3. oleh karena itu, pendidikan berlangsung dalam suatu lingkungan khusus yang sengaja diciptakan menurut sistem administrasi dan manajemen tertentu.
  4. isi pendidikan disusun secara sistemik dan terprogram dalam bentuk kurikulum
  5. tujuan pendidikan ditentukan oleh pihak luar (sekolah).
  1. Relevansi Filsafat Ilmu dan Filsafat Pendidikan

Filsafat secara etimologis berarti ’cinta kearifan’. Mencintai kearifan berarti mendambakan kehidupan yang diliputi dengan sikap dan perilaku adil. Kehidupan yang berkeadilan adalah kehidupan yang harmonis. Menurut objek penelitannya filsafat adalah bidang studi yang mempersoalkan hakekat segala sesuatu yang ada. Apakah itu secara kuantitatif tunggal atau plural berada dalam realitas abstrak atau konkrit. Terhadap pertanyaan itu, filsafat mengakui bahwa menurut substansinya, yang ada itu tunggal, berada ditingkat abstrak, bersifat mutlak, dan tidak mengalami perubahan. Sedangkan menurut eksistensinya, yang ada itu plural, berada ditingkat konkrit, bersifat relatif dan mengalami perubahan. Jadi, segala sesuatu yang ada di dunia pengalaman itu berasal mula dari satu substansi. Persolan yang muncul bagaimana menyikapi segala pluralitas? Apakah yang seharusnya dilakukan agar manusia tidak saling berbenturan?

Jawabannya adalah manusia harus bersikap dan berperilaku adil terhadap diri sendir, masyarakat, dan terhadap alam. Agar bisa berbuat demikian, manusia berusaha mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai keberadaan segala sesuatu yang ada ini, dari mana asalnya, bagaimana keberadaannya, dan apakah yang menjadi tujuan akhirnya. Untuk itu manusia harus mendidik diri sendiri dan sesamanya secara terus menerus. Bertolak dari pemikiran filsafat  tersebut pendidikan muncul dan memulai sesuatu. Dalam hal ini kegiatan pendidikan ditekankan pada materi yang berisi tentang pengetahuan umum. Berdasarkan filsafat, pendidikan berkepentingan membangun filsafat hidup. Jadi, terhadap pendidikan filsafat memberikan pengembangan berupa kesadaran menyeluruh. Tanpa filsafat, pendidikan tidak berbuat apa-apa dan tidak tahu apakah yang harus dikerjakan. Sebaliknya tanpa pendidikan filsafat tetap berada didalam dunia utopianya.

Berdasarkan penjelasan diatas, ilmu dapat melahirkan sebuah pendidikan da npendidikan juga berkaitan dengan ilmu. Dalam arti luas, ilmu melandasi perkembangan pendidikan, dalam arti sempit, ilmu sebagai bidang garapan pendidikan yang dijadikan subject matter.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 21, 2011 in Pendidikan

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: